Rahasia Besar Sepasang Kakek Nenek

Aku tak pernah mendengar pepatah seperti ini, jadi sebagai kepala keluarga yang memimpin anak istri harus makan bagian kepala?

Ibu Tiriku Adalah Ibu Kandungku

“jangan ragukan cinta mama terhadapmu, anakku. Mama menyayangimu dengan tulus” ucap mama sambil membalas pelukanku. Ahhh…. mama, maafkan aku"

Tak Terasa,7 Tahun Sudah

tahukah kau sayang, aku mencintaimu apa adanya, matahari boleh tenggelam,Bulanpun boleh tak membiaskan sinarnya Tapi cintaku padamu, tak pernah padam...

Cinta Tanpa Kata

Ahhhh…. Dia telah kembali, ke manakah dia selama lima tahun ini tanpa kabar? Mengapa tadi tidak langsung menemuinya

Damailah Kau Disana

Tahukah kau arti sebuah kehilangan? Adakah kau rasa, seperti yang kurasa di sini? Mengingatmu, selalu berurai air mataku

Senin, 01 Juli 2013

Pamit Terakhirmu



Illustrasi : pixabay.com
“Papa pamit, ma.  Papa pergi dulu  ya nak. Muahhh….” pamitmu  tadi pagi kepadaku dan anak-anak kita. Seperti biasanya, setelah kau cium keningku, engkau  pun pergi   mencari nafkah untuk kami, aku dan anak-anakmu. Sementara aku, sibuk mengurus anak-anak kita yang sebentar lagi akan ke sekolah. Begitupun dengan kedua jagoan kita, kakak beradik itu masih saja ribut, ada saja yang menjadi alasan keributan mereka. Biasanya aku akan mengeluarkan suara yang  sedikit keras untuk menghentikan keributan buah hati kita. Aku tahu, kau tak begitu suka dengan caraku mendidik anak-anak kita, “terlalu keras” katamu dan biasa saja menurutku.

Aku sedang sibuk menyiapkan bekal si kakak untuk dibawa ke sekolah, ketika tiba-tiba kurasakan pelukanmu. Rupanya ada sesuatu yang tertinggal, hingga engkau kembali. Benar saja, kulihat kau masuk ke kamar kita, sebentar kemudian keluar dengan sesuatu di genggaman tanganmu. Sebuah kotak mungil beludru dengan warna merah  kau tunjukan padaku. Mataku yang setengah mengantuk akibat kurang tidur semalam agak terbuka lebih lebar. Kemudian, dahiku berkerut menaksir apa isi dalam kotak mungil itu?

“Mama, ini untukmu. Bertahun-tahun papa sisihkan bagian dari pendapatan papa untuk membeli ini. Sejak kita menikah, papa ingin sekali membelikan benda ini untuk mama. Dan kemarin setelah terkumpul semua uang papa, segera papa belikan untuk mama. Entah mengapa, papa merasa takut tak sempat memberikannya untukmu. Terimalah dan bukalah, semoga mama suka” pintamu dengan senyum yang kurasakan seperti senyum kemenangan.

Kuterima benda itu dari tanganmu seraya mengucapkan terima kasih. Lalu kubuka dengan tangan gemetar, sebab kutahu suamiku telah berjuang untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menyenangkan aku. Perlahan kubuka kotak beludru itu dan sebuah cincin bermata bertahta di dalamnya. Takjub dan kaget membuatku bisu sejenak. Aku tak pernah meminta benda mahal ini kepada suamiku, karena kutahu sampai di mana batas kemampuannya. Bagi kami, kebutuhan sandang, pangan dan papan yang layak, serta sekolah anak-anak kami tidak terlantar saja sudah puji syukur.

“Papa, apakah benda ini perlu papa belikan untuk mama?” tanyaku dengan setengah bodoh. Sebagai jawabannya tanganku diraih oleh suamiku, kemudian diambilnya benda berkilau itu, lalu memasangnya di jemari manisku yang agak kasar.

“Mama suka?” tanyanya kemudian

“Suka, pa!” jawabku tersenyum miris. Kubayangkan bagaimana suamiku mengirit uang makannya, menyisihkannya sedikit demi sedikit, dari hari ke hari hanya untuk menyenangkan aku. Jujur saja, jika boleh memilih aku akan memilih tak pernah menerima hadiah ini dari pada suamiku menderita. Apa hendak dikata, bagaimana pun aku harus menghormati, lebih tepatnya menghargai jerih payahnya.

Kuusahakan wajah segembira mungkin, sambil mengatakan “terima kasih papa, mama sangat menyukai hadiah ini. telah lama mama memimpikan suatu saat jari manis mama tidak polos lagi, tapi ada sesuatu yang membelitnya di sana. Hari ini, papa telah memberikan sesuatu yang mama idam-idamkan” seperti inilah kata-kataku untuk memberikan penghargaan atas semua pengorbanan yang telah dilakukan  suamiku. Lantas aku memeluknya dan memberikan sebuah ciuman tulus di pipinya. Rasa haru mendominasi perasaanku, air mataku pun menetes tanpa dapat kucegah, air mata haru!

Kini, jemariku tak lagi polos. Adakah rasa bahagia yang lain dari biasanya? Rasanya tidak! Tanpa cincin ini pun aku bahagia sebagai seorang istri dari suami yang bertanggung jawab. Yang telah berusaha memenuhi kewajibannya walau terkadang  masih kurang sana-sini. Tapi aku tahu, suamiku telah berusaha semaksimal yang ia bisa, tugaskulah yang mengendalikan semua yang telah ia percayakan padaku. Kalau sampai kurang, berarti aku yang tak pandai berhemat.

Kutatap wajahmu yang sumringah, seolah kau telah memenangkan suatu pertarungan yang sangat sulit. Senyumku pun mengimbangi senyummu. Kau pamit lagi padaku, kemudian melangkah pergi bak pahlawan yang baru saja memenangkan peperangan. Kutatap punggungmu  yang kokoh, mengucapkan doa agar kau diberikan perlindungan olehNya, di manapun engkau berada. Doa tulus seorang istri kepada suami yang dicintainya.

Kujalani hari ini seperti biasanya, rutinitas seorang ibu rumah tangga. Mulai dari mengantar anak sekolah, memasak, mencuci dan menyapu. Terakhir menjemput anak-anak kita, tak terasa sore pun menjelang. Saban hari, bagitu-begitu saja yang kukerjakan. Bosan? yaaaa…. terkadang kurasakan, tapi aku tak pernah bosan menunggumu pulang.

Seperti sore ini, setelah rapi aku duduk di beranda bersama dua jagoan kita menunggumu pulang. Biasanya jam lima sore kau pasti sudah sampai rumah. Kutengok jam dinding di ruangan dalam, telah berlalu tiga puluh menit. Ke manakah engkau pergi? Apakah ada urusan mendadak dari bos-mu yang harus kau selesaikan secepatnya? Ahhh…. perasaan tak enak mulai menggrogoti hatiku, tapi kuyakin kau tak akan bertingkah macam-macam di luar sana.

Satu jam kemudian, sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah kita. Kupikir mobil nyasar yang tak tahu jalan, maka aku keluar dengan maksud menolong orang itu menunjukan jalan yang mereka cari. 

Memang bukan sekali ini saja mobil nyasar ke rumah kita. Biasanya engkau yang keluar, tapi kali ini karena kau belum pulang terpaksa aku menggantikan tugasmu.
Kulihat dua orang yang kukenal sebagai teman sekerjamu turun dari mobil. Menemuiku dan mengatakan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sedikitpun. Aku tak tahu lagi selanjutnya apa yang terjadi, semuanya gelap dan aku tersungkur. Yang sempat kudengar hanya teriakan kedua anak kita yang memanggilku.

Kini, kau ada di hadapanku. Terbujur kaku tanpa bicara. Diam, membisu walau habis sudah suaraku memngajakmu bicara. Tidurmu begitu pulas, hingga teriakan histerisku dan anak-anak tak mampu membangunkanmu. Tanah longsor di pertambangan di mana kau bekerja telah merenggut nyawamu dengan paksa. Mengambil engkau dari sisiku dan dua anakmu.

“Pa, inikah artinya cincin yang kau hadiahkan padaku pagi tadi? Aku tak mau benda ini, papa!  Aku ingin engkau kembali, bukan menggantikannya dengan benda ini!!!  Pa, ternyata ini firasatmu mengatakan takut tak sempat memberikannya padaku, apakah kau sudah merasakan akan terjadi sesuatu denganmu? Mengapa tak kau katakan padaku agar aku dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bersamamu?” batinku pilu.

Kini, katakan padaku, bagaimana aku harus melanjutkan hidupku dan anak-anak kita tanpamu? Katakan padaku!!!
*****
Cerpen ini kupersembahkan untuk seseorang yang saat ini sedang mengalami kehilangan seseorang yang begitu diccintainya. Semoga engkau tabah menghadapi cobaan dariNya. Amin.

Sudahkah Kita Menghindari Perilaku Tak Patut?


13660317972090796168
Illustrasi : seragampurnama.blogdetik.com
Pernahkah anda merasa sebal dengan perilaku orang-orang di sekitar anda yang menurut anda kurang patut dilakukan? Baik itu orang yang kebetulan beseliweran di dekat anda maupun orang-orang yang sudah  anda kenal. Seharusnya, di mana pun kita dan di lingkungan bagaimana pun kita berada, hendaklah kita berusaha agar perilaku kita beretika, jangan sampai orang lain menilai kita tidak sopan atau kurang patut dalam bersikap.

Dalam keseharian sering saya jumpai tingkah pola orang-orang yang boleh dikatakan merusak pemandangan, bahkan menimbulkan rasa mual. Sebagai mahluk sosial, alangkah baiknya kita memperhatikan pula orang lain yang sama-sama berhak menikmati kenyamanan seperti  kita.
Perilaku yang saya maksud contohnya seperti ini:

1. Meludah sembarangan. Tanpa melihat di mana ia membuang ludahnya, apakah di tengah keramaian atau terkadang sedang berkendara sekali pun. Bagi yang sedang berkendara, baik mobil atau motor, apakah terbayang oleh anda jika hajat yang anda  buang, juga merupakan sampah yang keluar dari bagian tubuh anda dapat mengenai orang lain yang ada di belakang anda? Belum lagi jika anda sedang sakit, beberapa penyakit dapat menular melalui ludah. Bagi yang sedang berjalan, jika tiba-tiba anda merasa ingin mebuang ludah sebaiknya carilah tempat yang memungkinkan untuk membuang sampah anda. mungkin dengan menampungnya dahulu dengan menggunkan tissue baru membuangnya ke dalam tong sampah. Janganlah perilaku kita merugikan orang lain.

2. Bersendawa berulang-ulang. Suatu kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang tanpa menyadari akan mengganggu orang lain yang melihat dan mendengar suara yang tak merdu itu. Jika tak sengaja,  ucapkan kata maaf. Itu pertanda memang kita sebenarnya tak ingin suara itu keluar, tapi tak mampu mencegahnya. Akan tetapi jika terjadi berulang kali, itu berarti memang sengaja dan sudah terbiasa. Jika ada salah satu teman anda bersikap seperti ini, apa tindakan anda? Menegurnya secara langsung tentang ketidak sukaan anda atas sikapnya atau mengeluarkan reaksi seperti lewat pandangan tak suka, menutup mulut dengan sapu tangan, atau buru-buru menjauhinya? Saya pilih yang terakhir.

3. Membersihkan gigi dengan tusuk gigi tanpa menutup mulut. Kegiatan ini memang lazim dilakukan setelah makan. Memang tidak merugikan orang lain, hanya saja merusak pemandangan bagi sebagian orang. Alangkah baiknya jika kita melakukannya dengan menutup mulut kita dengan sebelah tangan /tissue, sementara tangan yang satunya lagi beroperasi.

4. Mengeluarkan ingus sembarangan tempat. Sama halnya dengan membuang ludah di atas. Hajat yang anda buang yang bersifat lengket jangan dikeluarkan di jalan atau tempat yang menjadi tempat lalu lalang banyak orang. Ingat, buanglah sampah pada tempatnya, termasuk ingus anda!

5. Mengupil di tempat umum, hmmm… kegiatan yang ini selain tidak sopan juga menjijikan. Mempertontonkan lincahnya jari telunjuk anda menari-nari dalan rongga hidung, disaksikan orang lain, baik yang anda kenal ataupun tidak rasanya tidak patut. Bagaimana jika ada teman anda yang sedang melahap makanan sementara anda sedang melakukan ritual ini?

6. Yang terakhir, mengunyah makanan dengan mengeluarkan suara berdecap. Entahlah orang lain, tapi bagi saya, tidak menyukai jika ada yang makan bersama saya tiba-tiba mendengar alunan suara monoton seperti itu.
Inilah perilaku yang menyebalkan, sekali lagi versi saya. Mohon maaf jika ada yang tersinggung. Sama sekali saya tidak menganggap perilaku saya sudah baik, mungkin jauh dari baik dibandingkan dengan anda sekalian.
Selamat malam

(FanFiction) Oh… Ternyata


Gambar : Tantowi Yahya
.
Pagi ini aku harus gerak cepat menyelesaikan semua tugasku, jangan sampai ketinggalan nonton shownya  Country Road  Tantowi Yahya. Gila saja kalau sampai tak jadi nonton,  tiket sudah kubeli jauh-jauh hari dan itu hasil dari tabunganku tiga bulan yang lalu. Tak apalah berkorban sedikit demi menyaksikan sang idola beraksi. Selama ini kan aku hanya menonton  aksinya Tantowi lewat televisi, tapi kali ini impianku sebentar lagi akan menjadi nyata.
Kalau ada kesempatan aku akan minta tanda mata darinya. Syukur-syukur kalau topi koboynya nanti yang diberikan padaku. Terbayang olehku tatapan sirik Fitri Yentimenyaksikan keberuntunganku. Akan kubuat dia terbengong-bengong  dan menyesal setelah menertawakanku semalam. Apa katanya? ” Wualah… kakak jadul amat, kok yang dijadikan idola Tantowi, orang-orang mah sudah pada beralih ke aktor-aktor Korea“  Belum tahu dia, memangnya tokoh idola itu harus yang muda-muda apa?
Ah…. biarlah si Fitri dengan tokoh idolanya yang menurutku seorang tokoh khayalan. Nggak kira-kira “James Bond” masak sih tubuh kecil…..eh, tepatnya mungil begitu serasi disandingkan dengan Tokoh Bond yang fenomenal?. Seharusnya aku yang menertawakan dia, tapi tak sampai hati. Tapi tak tahan juga hati ini kalau tidak menjahilinya. kukatakan padanya “yang cocok buatmu Jame Lemes Bondo, bukan James Bond” hahahahaha…. Sekali-sekali mengalah untuk menyenangkan hatinya tak apalah, biasanya juga dia sering nangis dijahili aku.
Sebenarnya sih aku segan dengan Mas-nya, siapa yach namanya? Agak-agak lupa aku, hmmmm….. yaaa, Relly, namanya Relly Jehato!  Kadang  kalau nggak tahan dengan kejahilanku, si Fitri suka ngadu ke mas Relly, dan  mas Relly selalu membantu si Fitri . Maksudnya membantu menambah kekesalan Fitri…hahahahaha.
*****
Ruangan tempat konsernya idolaku sudah setengah terisi saat ku tiba. Segera kucari tempat duduk yang menurut paling strategis agar aku dapat melihat dengan jelas saat idolaku beraksi. Kuperiksa kembali kamera digital yang sudah kupersiapkan dari tadi pagi dalam tasku. Siiip, tak ada yang ketinggalan. Tak akan kulepaskan moment mengabadikan  wajah idolaku dengan berbagai pose disetiap aksinya.
Tepuk tangan riuh terdengar kala idolaku bersama Country Road beraksi dengan lagu pembuka ‘ Hopelessly your’s’, memang lagu ini adalah lagu favoritku. Kerennnn habis, pokoknya. Sekarang giliranku membidik kameraku kearah panggung. Dalam hatiku, coba saja lagu ke dua ” I Just Wanna Dance With You” . Hampir semua lagu-lagu Country Tantowi aku suka.
Sepertinya idolaku dapat membaca pikiranku, beneran lagu yang ke dua sesuai keinginanku. Dilanjutkan dengan lagu-lagu lain yang tak kalah bagusnya. Terakhir lagu karangan Almarhum bapak Gesang “Bengawan Solo” . Luar biasa!   lagu keroncong dinyanyikan dengan versi country betul-betul  membuai gendang telingaku. “….Mata airmu dari Solo,….” wuihhh, alunan suaranya maknyus!.Jika  keroncong diibaratkan sayur asem, maka lagu country sayur lodehnya. Keduanya sama-sama kusuka.
Di penghujung acara, Tantowi akan membagikan cendera mata kepada pengunjung yang beruntung. Kurangkapkan kedua tanganku , berdoa. Semoga saja aku orang yang beruntung itu, Topi koboynya euyyyy….andai kudapat memilikinya.
Wowww… . idolaku berjalan ke arahku, dengan senyum khasnya dia semakin mendekati tempat dudukku. Mulutku tak behenti komat-kamit baca doa, semoga….semoga….semoga keberuntungan ada di pihakku. Dan akhirnya…. entah mimpi apa aku semalam, Tantowi mengulurkan tangannya dan memberikan topi koboy itu untukku…..  ! Tidak pakai lama, langsung tanganku terulur untuk mengambil tanda mata itu, tapi kok tiba-tiba kepalaku sakit sekali ya?
Ternyata….. oh, ternyata aku terjatuh dari tempat tidur. Jadi semua kejadian tadi hanya…..???
“MIMPI”
*****
CATATAN: Cerita ini hanyalah fiksi, dan murni hasil imajiner saya belaka.
NB: Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana Communitydengan judul : Inilah Perhelatan & Hasil Karya Peserta Event Fan Fiction dan silahkan bergabung di FBFiksiana Community.

Jingga Memang Pilihan


Foto : Jingga


Ini cerita tentang Jingga waktu masih duduls dan tukang becak .
Suatu siang di pasar Turi - Surabaya. Percakapan antara Jingga dengan tukang becak :
Jingga: Bang, ke jalan A, berapa?

Abang : Biasa neng, tiga ribu. Eh.. Neng bentar ya… ( Si abang jongkok memungut sesuatu di samping becaknya)
Jingga : Apa tuh, bang?
Abang : Rejeki neng, abang nemuin dompet dari toko emas Mulia. Ada kalung lengkap dengan suratnya neng.
Si abang menyodorkan kwitansi pembelian kalung emas seharga Rp 250.000 ke Jingga.
Jingga : Wah… Benar bang, rejeki abang.
Abang : Neng, abang sebenarnya lagi butuh uang. Istri abang mau periksa kandungan ke puskesmas. Neng mau nggak tebus kalung ini?
Jingga : yaaa… Aku tidak punya uang sebanyak itu bang, hanya ada Rp 100.000.
Abang : nggak apalah neng, seratus ribu juga boleh.
Dengan senyum senang Jingga menyerahkan sisa uangnya dan menerima dompet beserta kalung dari tangan si abang becak.
Abang : terima kasih neng
Jingga : sama-sama bang.
*****
Sesampainya di rumah Jingga berteriak memanggil mamanya.
Jingga : Ma….. mama!
Mama : iya, ada apa…. Kok kelihatannya girang banget? Belanjaannya mana…. Lengkap?
Jingga : Beres ma, semuanya ada. Ada sisa uang mama Rp 100.000
Mama : Mana ?
Jingga : Ini
Jingga menyodorkan dompet yang berisi kalung yang ditebusnya dari abang becak tadi.
Mama : Apa ini, dapat dari mana?
Dengan bangga karena kepintarannya, Jingga menceritakan asal usul tuh kalung, lengkap dengan bumbu penyedap sedikit berharap si mama bangga.
Mama Jingga membuka dan meneliti kalung itu, kemudian:
Mama : Jingga, kembalikan duit mama! Pokoknya nggak mau tahu, kembalikan duit mama!!!
Jingga : lha… Mama yg harus kembalikan ke Jingga Rp 150.000. Harga kalung itu Rp 250.000 ma. Mama ambil uang mama Rp 100.000 sisanya milik Jingga.
Mama : Nih ambil kembali tuh kalung, wong itu kalung imitasi yg harganya hanya Rp 5.000.
Jingga : Haaaaa…….. Tepok jidat.
*****
Ternyata Jingga memang pilihan. Pilihan abang becak untuk dikadalin!

Ponsel Pertamaku : Alcatelku Sayang, Tak Kubiarkan Kau Bernasib Malang



1363225536883130010
Alcatel
Jaman sekarang handphone bukanlah barang sekunder lagi bagi masyarakat kita. Tidak tua, muda bahkan anak kecil pun telah memiliki handphone. Terkadang kita yang otaknya sudah agak berkarat malah harus bertanya kepada anak-anak tentang fitur-fitur yang ada pada ponsel kita.

Perlu kita akui, memang ponsel sangat penting. Orang tua dapat mengontrol anak-anaknya melalui ponsel,begitupun sebaliknya, anak-anak dapat dengan segera menguhubungi orang tuanya jika berada jauh dari mereka. Sampai ada seloroh konyol teman-teman sekantorku seperti ini “mending ketinggalan dompet, daripada harus ketinggalan handphone“. Hahahaha…. Memang benar sih! Jadilah tradisi di kantor kami saling mengingatkan ” hayooo… Jangan sampai ada yang ketinggalan, HP, charger, dompet…” Hehehe ternyata dompet urutan ke tiga lho, padahal seharusanya nomor satu.

Dulu, saat aku dan suamiku belum punya ponsel sungguh sangat menyedihkan bagiku. Terkadang aku harus menunggu suami sampai gelap, karena kantor aku dan suami lumayan jauh. Jarak dari kantor suami ke kantor saya sudah diperkirakan dalam keadaan normal lebih kurang 40 menit. Nah… Jalanan Jakarta kan tahu sendiri, kadang macetnya luar biasa. Kebat-kebit rasa hati menanti yang tak kunjung tiba, berbagai pertanyaan memenuhi isi kepalaku. Apakah terjadi sesuatu dengannya, atau dia begini dan begitu?

Berbagai tanya yang baru akan terjawab jika dia tiba, ada kemarahan dan emosi akibat menunggu terlalu lama, tapi semua kekesalan dan emosi itu hilang begitu melihat si dia muncul. Berganti dengan rasa lega karena dia selamat. Bayangkan saja, hampir setiap hari menjalani kegelisahan seperti itu, alamak….. sakit batin ini.

Waktu itu kami baru saja menikah, sebagai perumah tangga baru banyak pengeluaran yang lebih penting yang harus kami dahulukan. Memang ponsel pada jaman itu baru sedikit yang memilikinya. Kuingat saat itu temanku se kantor hanya satu yang mempunyai benda mahal itu, dan sampai ileran aku mengagumi tuh benda. Hehehehe ‘Nokia pisang‘ istilahnya saat itu, aku tak tahu type berapa?
Dalam hati kuberpikir, alangkah senangnya jika aku san suami memiliki ponsel. Tentu tiap sore kekhawatiranku akan berkurang, dan jika dia terlambat karena ada halangan di jalan dia dapat menghubngiku. Mulailah aku berpikir akan pentingnya alat komnikasi itu untuk kami. Bukan sekedar untuk gaya-gayaan atau gengsi-gengsian lho, tapi memang karena fungsinya.

Kuingat saat itu, tahun 1998 kami dapat mewujudkan impian kami memperoleh ponsel pertama kalinya setelah kami mendapat gaji ke 13 kami alias THR. Ponsel kembar buatan Perancis yang tidak banyak dikenal orang adalah ponsel pertama kami. Kami memilih merk Alcaltel dengan pertimbangan harganya lebih murah jika dibandingkan dengan keluaran Jepang seperti Nokia, Ericson dan Motorola. Kutebus sepasang ponsel kembar tersebut dengan harga Rp 3.300.000 cukup tinggi dibandingkan harga ponsel sekarang. Belum lagi saat itu untuk Sim cardnya juga mahal, Rp 125.000/ kartu dan nomornya pun bukan nomor cantik, tapi nomor seadanya. Saat ini hanya dengan Rp 5.000 kita sudah dapat membeli sim card perdana.

Sampai saat ini, sepasang ponsel perdana kami tetap kami simpan sebagai kenang-kenangan. Biarlah jadul tapi tetap mempunyai sejarah yang tak mungkin kami lupakan. Nada dering yang unik, kadang membuatku tertawa kala lagi iseng saat menghidupkannya kembali.

Alcatelku sayang, tak akan kubiarkan engkau menjadi ponsel yang malang. Sebab, tak ada keinginanku untuk memberikanmu tuan yang baru. Biarlah engkau menjadi saksi perjalananku dalam penantian menunggu mantan pacar menjemputku.dan itu berlangsung cukup lama.
Saat ini kubuatkan engkau prasasti dalam kotak kaca sebagai balas jasa kami padamu.
*****

Pengantin Kecilku



Sumber gambar: vemale.com

Seorang anak perempuan kira-kira berumur sepuluh tahun berteriak-teriak ketakutan. Kedua telapak tangannya ia goyang-goyangkan seolah berkata ‘jangan… Jangan’!. Sementara itu kira-kira dua meter di depan anak perempuan itu, berdiri anak laki-laki yang mungkin selisih umurnya lebih tua antara tiga sampai empat tahun dari si anak perempuan. Sambil mengacung-acungkan sesuatu yang nampaknya sangat ditakuti si anak perempuan, Anak laki-laki itu berjalan semakin mendekati si anak perempuan , dan si anak perempuan semakin mundur dari tempatnya.
“Mas Wan, jangan mas. Buang… mas!” katanya memelas. Tak nampak air mata dari anak perempuan itu walau jelas sekali ia ketakutan. Anak laki-laki itu tidak dapat berpuas diri sebelum menyaksikan jatuhnya air mata dari si anak perrempuan. Tiada kemenangan yang ia dapat, sama seperti kejadian yang sudah-sudah. Di balik tubuh mungilnya, si anak perempuan menyimpan kekerasan hati yang tak kalah dengan anak laki-laki. Itulah yang membuat Wawan sering menjahilinya.
Tiba-tiba si anak perempuan, jatuh tergetak. Rambutnya yang hitam panjang menutupi sebagian wajahnya. Mukanya pucat pasi, sedang sendalnya yang satu terlepas dari kakinya. Si anak laki-laki segera berlari menghampiri si anak perempuan, benda yang dipegangnya tadi langsung dibuangnya.
“Win… Winda,… Winda… Kamu kenapa? Bangun, Win… ! Apanya yang sakit, di mananya yang sakit? Mas Wan minta maaf, ayo dong bangun” setengah berteriak anak laki-laki yang menyebut didinya ‘Mas Wan’ itu mengguncang-guncangkan tubuh anak perempuan yang dipanggilnya ‘Winda’. Diletakkan telapak tangannya di kening Winda, sambil merapikan rambut Winda yang menutupi sebagian wajah mungil itu. Baru Wawan tahu ternyata di balik poni Winda ada tanda titik hitam tepatnya sebelah kiri keningnya.
Wawan selalu mengangumi diam-diam rambut dan wajah mungil Winda. Sejak awal, ketika bertemu Winda empat tahun lalu, Wawan sudah menyukai anak mungil itu. Seorang anak perempuan yang tidak cengeng, gesit, ramah dan baik hati. Wawan sendiri baru pindah dan menjadi tetangga Winda waktu itu.
“Maafkan mas Wan, ya Win. Mas tak sengaja membuatmu jatuh pingsan. Mas memyesal, dan mas janji tak akan menjahili kamu selamanya. Sekarang mas akan berusaha menggendongmu pulang” bisik Wawan di telinga Winda.
Jarak dari tempat mereka bermain ke rumah Winda memang tak berapa jauh, sekitar seratus meter. Wawan merasa sanggup menggendong Winda, dan harus sanggup, bukankah ia yang menyebabkan Winda tak sadarkan diri? Kalau terjadi sesuatu denagn Winda, ia tak akan memaafkan dirinya. Memang keterlaluan kelakuannya tadi.
Dengan mengalungkan tangan winda di lehernya, Wawan meletakkan tubuh mungil itu di punggungnya. Hups… Dengan sekuat tenaga Wawan mulai bangun dan berjalan meninggalkan tempat bermain mereka tadi. Dengan langkah pelan, seolah takut lebih menyakiti Winda, Wawan berjalan makin menjauhi meninggalkan taman. Dalam hati ia berjanji, akan menebus semua kesalahannya terhadap Winda.
Tiba di depan rumah Winda, Wawan bermaksud berteriak memanggil ibunya Winda, tapi belum sempat Wawan melakukannya, tiba-tiba Winda loncat dan turun dari gendongan Wawan. Dengan senyum nakal, dia meleletkan lidahnya kemudian masuk ke rumah sebelum menutup pintu rumah sempat dia berteriak “mas Wan, skors kita 1 - 1. Emangnya enak dikerjain?” Sadarlah Wawan. Ia telah tertipu akal cerdik Winda.
Sambil senyum simpul, Wawan membalikkan tubuhnya meninggalkan rumah Winda. Tak ada sama sekali rasa jengkel terlihat dari raut wajahnya, malahan perasaan lega dan senang menutupi letihnya ia menggendong Winda tadi. Sadarlah ia ternyata ia sangat ‘menyayangi’ Winda. Kenangan ini tak akan dilupakannya, seumur hidupnya. Sesungguhnya ada yang ingin dia sampaikan kepada Winda tadi, kalau Winda tidak pura-pura pingsan. Tapi biarlah…, mungkin memang tak seharusnya ia katakan, tak tega ia melihat wajah murung Winda.
*****
Dalam suatu ruangan kerja, Wawan sedang asyik membaca naskah-nasah yang masuk dalam redaksi yang ia pimpin. Ketukan pintu menyadarkannya untuk berhenti sejenak dan dari balik pintu menyembul kepala Tina, sekretarisnya mengingatkan. ” Saatnya lunch, pak” dan dijawab oleh Wawan ” duluan, Tin. Tanggung sedikit lagi selesai. Cerita ini sangat menarik hatiku”
Sepeninggalnya Tina, Wawan kembali tenggelam dalam bacaannya tadi. “Mengapa cerita ini persis seperti yang kualami lima belas tahun yang lalu. Mengapa kejadiannya sama persis dengan yang kualami dengan Winda semasa kecil kami., siapakah pengarangnya? Mengapa harapannya sama seperti harapanku, bahkan tiada henti kupinta dalam setiap doaku agar Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk berjumpa kembali dengan Winda. Dan dalam cerita ini tokoh wanitanya berharap bertemu kembali dengan sahabat kecilnya yang menghilang tanpa pesan. Meninggalkannya dalam tanda tanya hingga ia dewasa tak jua ditemukan apa penyebabnya. Rasa kehilangan yang sama seperti yang ia rasakan”
Pengarangnya tertulis Saptariani.W, sebuah nama yang manis. Ternyata bukan dia, bukan Winda sahabat kecilnya dulu yang ia tinggalkan tak sempat pamit. Apakah ada cerita yang sama dialami oleh orang yang berbeda? Mungkin saja, namanya juga cerita. Pengarang bebas menceritakan apapun yang ada dalam pikirannya, dan bisa jadi bukan cerita nyata, tapi buah imajinasi pengarang belaka. “Sudahlah Wan, hentikan harapmu untuk bertemu dengannya. Saat ini mungkin Winda telah dimiliki oleh orang lain dan sudah punya anak-anak yang manis” gumamnya dalam hati.
*****
“Tin, kapan jadwal pertemuan dengan pengarang yang naskahnya memenuhi syarat ? ” tanya Wawan kepada Tina yang baru saja menyelesaikan makan siangnya.
“Segera setelah semua naskah terkumpul pak, biodata pengarang sedang dikumpulkan untuk dihubungi. Rasanya kali ini banyak pengarang pemula yang memenuhi syarat, tinggal kita poles sedikit saja. Ada beberapa pengarang berasal dari luar kota, ” jawab Tina. Sedikit rasa heran melihat sikap bosnya ini, tak biasanya pak Wawan menanyakan jadwal pertemuan dengan pengarang. Namun ia tak ingin bertanya lebih lanjut, biasanya jika perlu Wawan akan memberikan penjelasannya padanya.
Seminggu Kemudian,
“Tina, tolong atur jadwal pertemuan pertama dengan pengarang yang berjudulPengantin Kecilku. Saya tertarik dengan ceritanya, usahakan jangan terlalu siang. Setelah makan siang saya ada jadwal meeting dengan  toko buku untuk membahas pemasaran buku-buku terbitan kita” ucap Wawan begitu sampai kantor pagi ini.
“Baik pak, kebetulan pengarangnya sudah menyanggupi bertemu kita jam sebelas” jawab Tina. Tina memang sekretaris yang terampil, cepat tanggap dan mengerti akan kinerja yang diinginkan wawan. Mereka sebenarnya nampak serasi, sayangnya antara mereka berdua tidak ada hubungan khusus selain hubungan antara bos dan sekretaris. Sebuah team yang profesional, sehingga mereka jauh dari gunjingan karyawan yang lain.
Semua kenangan tentang Winda tiba-tiba menyeruak kembali dalam ingatan Wawan, Winda yang penuh kecerdikan selalu membalas setiap kejahilan yang dilakukannya. Dari kecil sebetulnya Wawan sudah merasa menyayangi gadis cilik itu. Demi menyenangkan Winda sering Wawan sengaja berpura-pura kalah dalam setiap permainan maupun permintaan. Ahhh… indah sekali masa kecilnya bersama Winda.
Tak sadar entah telah berapa lama ia tenggelam mengingat masa lalunya. Bukan tak pernah ia mencoba mencari Winda di tempat neneknya di mana dulu ia dititipkan. Ternyata Winda sekeluarga telah pindah dari tempat itu dan tak ada yang tahu mereka pindah ke mana? Pupus sudah harapannya untuk dapat bertemu kembali dengan sahabat kecilnya.
Ketukan pintu pada ruangan kantornya menyadarkannya, ternyata Tina yang memberitahukan kalau pengarang yang ingin ditemui Wawan telah tiba dan siap bertemu dengannya. Ada suatu harapan dan penasaran yang tak dapat ditahan oleh Wawan, akankah…?
Masuklah Tina dengan mendorong kursi yang diatasnya duduk seorang gadis kira-kira 25 tahun.
“Pak, ini pengarang buku Pengantin Kecilku. Dan Mbak Riani, ini pak Setiawan pimpinan redaksi majalah kami. Beliau mungkin akan bertanya sedikit pada mbak. Saya tinggal ya, mbak” ujar Tina kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
Wawan mengulurkan tangannya pada gadis itu, ” apa kabar,mbak?” Salam pembuka dari Wawan. Matanya menatap dengan agak menyelidik pada wajah gadis di depannya. Sikap gadis itu sangat tenang terkendali, sosok wanita yang mandiri dan tegar. Cacat yang menempel pada dirinya tak membuatnya rendah diri, sama sekali tidak kelihatan nervous. Dalam hati Wawan memuji sikap gadis di depannya, persis sikap Winda sahabat kecilnya dulu. Tidak cengeng, mandiri dan tak pernah merasa takut kecuali dengan….
Agak kecewa Wawan  karena yang hadir di hadapannya sekarang ternyata bukan Winda. Winda dalam bayangannya adalah  sosok gadis yang tak mungkin cacat, lincah dengan sepasang kakinya yang tak pernah diam. Yang selalu mampu membalas setiap kejahilan yang dilakukannya.  Persamaan gadis ini dengan Winda hanya  pada sikap percaya dirinya. Sepertinya gadis ini agak pendiam dan tertutup, entah karena merasa dirinya cacat atau bisa jadi memang pembawaannya begitu.
“Mbak Riani, kami tertarik dengan naskah mbak, dan kami bermaksud menerbitkannya dalam bentuk novel. Jika ada bagian-bagian dalam tulisan mbak yang kurang greget, kurang begini atau kurang begitu akan kami perbaiki dalam pengeditan. Kami akan kirim hasil akhirnya ke mbak. Jika mbak setuju maka tahap pencetakan akan kami lakukan. Apakah mbak keberatan?” tanya Wawan
“Sama sekali tidak, pak. Asal tidak menyimpang terlalu jauh dari cerita aslinya, silakan saja. Saya penulis pemula, tentu banyak kesalahan dalam hal penulisan maupun tata bahasanya. Menurut pendapatku, bukan hanya pihak penerbit saja yang ingin menerbitkan bukunya seprima mungkin. Pengarang pun ingin menghasilkan suatu karya sesempurna mungkin yang bisa dilakukannya” balas Riani.
“Jika demikian kami akan menyiapkan kontrak perjanjiannya, segala sesuatu hak dan kewajiban tercantum di dalamnya. Tolong mbak pelajari, jika tak keberatan bisa menanda tanganinya di sini. Tapi jika mbak memerlukan waktu untuk mempelajari, boleh juga mbak bawa pulang dan mengembalikan secepatnya pada kami”
“Untuk menghemat waktu, biarlah saya mempelajari di sini pak, mengingat keterbatasan saya, agak riskan jika saya harus bolak-balik ke mari. Beri saya waktu tiga puluh menit untuk mempelajari surat kontrak itu, dan saya akan langsung bertanya jika ada bagian yang tidak saya mengerti atau terasa berat buat saya” tegas sekali ucapan gadis itu.
Wawan segera memanggil Tina untuk segera menyiapkan surat kontrak tersebut, memang sebetulnya Tina sudah menyiapkannya dari tadi. Tinggal menunggu instruksi dari wawan saja.
Wawan membiarkan Riani mempelajari isi perjanjian yang disodorkan padanya, nampak serius sekali dia membaca satu persatu pasal dalam kontrak tersebut. “ Hmmm… gadis ini sangat teliti dan kelihatan tidak sembarangan menerima begitu saja apa-apa yang tertera dalam kertas putih itu” batin Wawan memuji.
Wawan bukanlah laki-laki yang tidak mengerti etika, tapi entah mengapa ia memakai kesempatan Riani yang sedang serius mempelajari isi kontrak untuk menatap dengan seksama wajah di depannya itu. Seolah mencari-cari sosok lain dalam diri Riani. Masihkah ia mengharapkan sosok Winda menjelma pada diri Riani?
Mungkin ada pasal yang kurang dimengerti oleh Riani , tak sengaja iamemegang keningnya hingga poninya sebelah kiri terangkat sedikit. Gerakan ini tak luput dari penglihatan Wawan, dan alangkah kagetnya Wawan ternyata Riani mempunyai tanda yang sama seperti Winda kecilnya. Winda yang selama ini dirindukannya, apakah Riani adalah Winda? Pikirnya.
Ketegangan meliputi hati Wawan, namun ia berusaha sabar menunggu Riani menyelesaikan aktifitasnya. Dia harus mencari cara untuk mengetahui apakah perkiraannya benar.
Tiba-Tiba Riani mengangkat kepalanya, sementara mata Wawan belum beralih dari wajah Riani. Dua mata saling beradu, dan berakhir dengan senyuman dari ke duanya. “ Ada yang kurang jelas, mbak? Silakan tanyakan sebelum ditanda tangani” ujar Wawan menutup rasa jengah karena ketahuan sedang memperhatikan gadis itu.
“ Saya rasa semua isi perjanjian ini cukup fair pak, dan saya menyetujui semua yang tertera dalam perjanjian ini. Baik, akan saya tanda tangani dan isi bagian yang harus saya isi” jawab Riani.
“ Nanti dulu, Winda!” kata Wawan tiba-tiba. Dan alangkah kagetnya Wawan menyaksikan perubahan wajah Riani yang tak kalah terkejutnya.
“Dari mana bapak mengetahui nama kecil saya? Seingat saya, tak pernah nama kecil itu saya cantumkan dalam pengiriman naskah saya?” balas Riani dengan penasaran.
“ Jadi, benar kamu adalah Winda kecil yang sangat takut dengan bulu ayam?”
“Siapa sebenarnya bapak? Mengapa bapak mengetahui nama kecil saya dan kelemahan saya. Tolong jangan biarkan saya mereka-reka penasaran!
“Ingatkah kamu dengan seseorang yang dulu sering mengalah padamu, juga sering menjahilimu? Ingatkah ketika kamu menangis karena seseorang menolak permintaanmu untuk bermain pengantin-pengantinan karena dia merasa tidak pantas walau hanya menjadi pengantin kecilmu? Dan yang terakhir ingatkah kamu, seseorang yang kamu jahili hingga terpaksa menggendongmu dari taman sampai ke rumah?” ujar wawan terbahak ketika selesai menjawab pertanyaan Riani.
“Wawan, benar kamu mas Wawan? Benarkah kamu sahabat kecilku yang super iseng dan paling takut dengan kecoa?” balas Riani setengah berteriak.
Tak terasa dua pasang mata dari dua anak manusia itu telah dipenuhi air mata. Air mata kebahagiaan, karena telah menemukan apa yang mereka cari selama ini. Wawan mengerti, Winda dalam sosok Riani merindukannya. Terbukti dari naskah ‘Pengantin Kecil‘ yang menceritakan pencarian Winda terhadap dirinya. Sama seperti Wawan yang selama ini juga mencari keberadaan Winda.
“Aku tertarik dengan naskahmu karena aku merasa ada aku dalam bagian cerita itu. Aku berharap, penulisnya adalah kamu Win. Sempat ku kecewa melihat nama yang tercantum dalam naskah itu Saptariani.W bukan Winda seperti nama yang kukenal dulu. Saat terakhir yang membuatku berani gambling memanggilmu dengan nama ‘Winda’ karena melihat titik hitam di keningmu saat kau tak sengaja tadi mengangkat ponimu” ujar Wawan sumringah.
“Mas, kalau kau jeli huruf ‘W’ di belakang namaku itu adalah ‘Winda’. Sengaja aku samarkan untuk nama penaku. Ternyata walau tak sengaja, aku masih sanggup mengerjaimu seperti biasanya, kan?” kata Winda sambil cekikan. Sekarang Wawan melihat kembali sosok Winda kecilnya yang jahil. Kedua matanya terpejam mengucapkan syukur padaNya atas didengarnya doa-doanya. Bertemu dengan Winda adalah harapan terbesarnya.
“ Win, kakimu…?”
“Iya mas, tiga bulan yang lalu aku kurang hati-hati menyeberang. Akibatnya sebuah motor yang melaju kencang menabrakku. Jadilah aku seperti sekarang ini, kursi roda sebagai pengganti kakiku. Bulan depan aku akan menjalani operasi pemasangan pen sebagai pengganti tulangku yang patah” jawab Winda sedih.
“Jangan putus asa,Win. Ilmu kedokteran sekarang sudah canggih. Kuyakin kakimu pasti akan sembuh seperti semula. Biarkan aku mengantarkan kau pulang, sekalian tahu alamatmu dan kangen dengan kedua orang tuamu”
 Dulu aku menolak menjadi pengantin kecilmu, sekarang giliran aku bertanya padamu. Duhai pengantin kecilku, bersediakah sekarang engkau menjadi pengantin sungguhanku? Jangan pungkiri apa kata hatimu, karena lewat tulisanmu aku mengetahui apa yang kau rasakan. Tak jauh berbeda denganku” seloroh Wawan membuat Winda tersipu malu.
“ Dengan senang hati, mas Wawan. Asalkan kau bersedia menangkap seribu kecoa sebagai kado pernikahan kita nantinya” tak mau kalah Winda membalas Wawan. Nah lho….?
*****
“Percayakah anda tentang jodoh di tangan Tuhan? Kalau Tuhan menghendaki, walau terpisah ribuan mil tetap saja akan bertemu. Tak ada yang tak mungkin bagiNya, asal kita percaya”

Putri Duyung, Sebuah Dongeng Peringatan


Gambar: faktakeajaibandunia.wordpress.com

Dari kecil, bahkan sejak dapat mengeja kata-kata aku sudah menyukai cerita dongeng. Mulai dari cerita Timun Mas sampai dongeng saduran dari luar seperti Cinderella, Putri Salju dan Little Mermaid. Yang terakhir ‘ Little Mermaid’ paling  kusuka. Mungkin otak tuaku mulai berkarat, hanya beberapa dongeng-dongeng yang telah kubaca masih nyantel di kepalaku sedang sebagian besar raib dalam ingatan. Paling yang ingat hanya sepotong-sepotong. Di saat anak-anak minta diceritakan dongeng waktu mau tidur, kadang awalnya kisah tentang Cinderella tapi endingnya menjadi cerita Putri Salju.

“Little Mermaid”  ditulis oleh Hans Christian Andersen, pertama kali diterbitkan pada tahun 1837. Dalam versi Disney, tokoh putri duyung mendapatkan kembali suaranya dan menikah dengan pangeran. Tetapi versi Hans Christian Andersen tidak berakhir dengan kebahagiaan. Mungkin beliau ingin menekankan pada tragedi cinta yang bertepuk sebelah tangan.
***
Beginilah cerita Putri Duyung yang masih nyantel dalam otakku:
Putri duyung adalah Putri bungsu  dari raja laut. Dia hidup bersama ke lima saudara perempuannya. Putri bungsu adalah putri yang tercantik di antara saudara-saudaranya dan terkenal memiliki suara yang merdu.

Pada suatu hari sebuah kapal dari kerajaan daratan tenggelam karena badai dahsyat, sang putri bungsu melihat seorang manusia terdampar, yang ternyata seorang pangeran. Putri bungsu langsung jatuh hati pada pangeran tersebut. Dia menyelamatkan sang pangeran kemudian kembali lagi ke dasar laut.

Sesampai di dasar laut, putri duyung merenung akan perasaan cintanya dan berputus asa, sebab ia tahu manusia tidak dapat hidup di air dan putri duyung juga tak dapat berjalan di daratan. Namun karena perasaan cintanya  tak dapat lagi dibendung, ia mendatangi seorang penyihir jahat untuk meminta bantuan. Si penyihir  bersedia membantu putri duyung dengan memberinya sepasang kaki layaknya kaki manusia akan , sebagai imbalannya si putri duyung harus menggantinya dengan memotong lidahnya.

Dalam pikiran putri duyung kalau sudah dapat berjalan, tak bisa berbicara dan bernyanyi tak apa. asalkan dia dapat berjalan dan menyerupai manusia normal. Ada lagi pengorbanan yang harus ditebus mahal oleh sang putri duyung, jika sang pengeran menolaknya maka, ia akan mati dan berubah menjadi buih-buih di lautan.

singkat cerita pangeran bertemu dengan putri duyung yang kini telah memiliki sepasang kaki dan tangan.Keduanya menjadi teman sejalan dan tak terpisahkan, selalu bersama kemana pun. Karena putri duyung tak dapat bicara dan menulis , mereka tidak dapat berkomunikasi dengan apapun. Hanya dengan pancaran kedua matanya putri duyung berusaha mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

Putri duyung merasa cukup berbahagia dengan keaadaan seperti itu, yang penting baginya ia dapat bersama dengan sang pangeran, tapi ia juga kesakitan. Sebab setiap kali kakinya melangkah ia merasa sangat sakit apalagi tidak ada kepastian apakah pangeran akan menjadikannya sebagai permaisuri.

Akhir cerita pangeran ternyata menikah dengan seorang putri dari bangsa manusia yang dapat bicara dan putri duyung pun berubah menjadi buih-buih di laut.
****
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari cerita putri duyung? Dulu saat pertama kali kubaca dongeng ini yang ada dalam pikiranku adalah ” mengapa harus demikian cerita akhirnya, mengapa pangeran tidak menikah saja dengan putri duyung dan mengapa putri duyung rela berkorban demi sesuatu yang belum pasti?” Sungguh mahal pengorbanan putri duyung untuk menggapai cintanya. rasanya ingin protes pada pengarangnya, mengapa harus sad ending?
Berkali-kali cerita dongeng ini kubaca, berkali-kali pula kutemukan pelajaran dan pesan yang berbeda. selalu ada pemahaman baru seiring dengan berjalan waktu dan bertambahnya kedewasaan kita. Akhirnya aku benar-benar salut dengan penulisnya. Rupanya ada sisi lain yang ingin dipesan oleh pengarang. dalam kisah ini Hans Christian Andersen seolah ingin memberikan pelajaran pada kita bahwa :

1. Janganlah menilai atau mengagungkan dunia luar lebih baik dari kehidupan kita sekarang. Kita terkadang tidak menghargai apa yang kita miliki dan lebih menghargai apa yang ada di luar jangkauan. Anggaplah ketertarikan seseorang pada diri kita karena kepribadian kita, dan hormatilah dirimu dengan kelebihanmu itu.

2. Janganlah kita mengambil resiko besar untuk sesuatu yang belum pasti ( Putri duyung rela meninggalkan dasar laut untuk bertemu pangeran yang telah membuat jatuh cinta, padahal belum tentu pangeran akan menerimanya)

3. Kita sering menutupi diri kita dengan topeng kebagusan yang sebenarnya dipaksakan. Dengan kata lain, kita tampil tidak apa adanya diri kita. Dan ini sangat menyiksa, karena kita dipaksa menjadi orang lain bukan diri kita sendiri ( putri duyung berusaha menutupi kelainan dirinya sebagai putri duyung dan menggantikan buntutnya dengan sepasang kaki demi sang pangeran) Jika pangeran kita tidak dapat melihat kelebihan kita, itu berarti dia bukanlah pangeran sejati kita.

4. Jangan kita menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan kita, bahkan dengan melakukan hal-hal yang tidak terpuji ( meminta bantuan dengan penyihir jahat, contoh dalam cerita ini) Ingatlah sesuatu yang busuk suatu saat akan tercium juga.

5. Kita tidak boleh mengorbankan apa yang menjadi kelebihan kita dan menggantikannya dengan yang lain untuk hal yang belum pasti ( Putri duyung rela mengorbankan suaranya untuk sepasang kaki)

6. Tidak sepantasnya mengorbankan kemampuan kita demi sesuatu yang masih abu-abu ( putri duyung mengorbankan suaranya yang merdu untuk bernyanyi  sebagai cara untuk menjalin hubungan dengan pangeran)

Harus kita sadari dan bersyukur atas  keindahan dan segala kelebihan yang melekat dalam diri kita. Jangan selalu menganggap kehidupan kita lebih buruk daripada kehidupan orang lain. Seperti kata pepatah “ rumput tetangga memang selalu kelihatan lebih hijau ”

Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan, jika harus gagal terimalah dengan legowo, jadikan pelajaran dari kesalahan kita untuk memperbaikinya di masa yang akan datang.
***
Kebahagiaan yang utama dalam hidup adalah keyakinan bahwa engkau dicintai karena dirimu, atau tepatnya, dicintai tanpa memandang siapa dirimu sebenarnya” ( Victor Hugo)
* Sumber : Cerita dongeng