Rahasia Besar Sepasang Kakek Nenek

Aku tak pernah mendengar pepatah seperti ini, jadi sebagai kepala keluarga yang memimpin anak istri harus makan bagian kepala?

Ibu Tiriku Adalah Ibu Kandungku

“jangan ragukan cinta mama terhadapmu, anakku. Mama menyayangimu dengan tulus” ucap mama sambil membalas pelukanku. Ahhh…. mama, maafkan aku"

Tak Terasa,7 Tahun Sudah

tahukah kau sayang, aku mencintaimu apa adanya, matahari boleh tenggelam,Bulanpun boleh tak membiaskan sinarnya Tapi cintaku padamu, tak pernah padam...

Cinta Tanpa Kata

Ahhhh…. Dia telah kembali, ke manakah dia selama lima tahun ini tanpa kabar? Mengapa tadi tidak langsung menemuinya

Damailah Kau Disana

Tahukah kau arti sebuah kehilangan? Adakah kau rasa, seperti yang kurasa di sini? Mengingatmu, selalu berurai air mataku

Selasa, 02 Juli 2013

Bergejolak Dalam Diam

 

Kau datang menyapaku, tanpa ku undang
Kau pergi pun tanpa ku usir
Meninggalkan tanya dalam hatiku
Apa maumu sebenarnya?
Atau kau hanya ingin membuatku
Bergejolak dalam diam ?

Semilir angin menyentuh pori-pori kulitku
Membawa kesejukan yang membasah
Di langit bulan tersembul malu-malu
seperti ingin menyindirku, tentang sesuatu
Yang membuatku, bergejolak dalam diam.

Tak ingin aku lenyap dalam peredaranku
Pun tak sanggup merentang sang waktu
Jiwaku hidup sesuai tuntutan realita
Indah atau tidak, kita hanyalah wayang
Mengikuti keinginan sang dalang
Ku hanya dapat, bergejolak dalam diam.

Senyap… mati…. , tanpa daya juang
Mengikuti kemana arah angin membawaku
Entah itu di namakan takdir atau suratan
Akupun tak mau mempedulikannya
Yang pasti ku rasakan adalah,
Bergejolak dalam diam.

Sungguh menjijikan seekor ulat
Tak indah di pandang, juga merugikan
Ketika ia berubah menjadi kepompong
Ia pun merasakan tak berdaya dalam kukungannya
Sebelum menjadi kupu-kupu yang indah
Ia juga merasakan, bergejolak dalam diam.

Denting lonceng suci menyadarkan lamunanku
Terasa merdu di gendang telinga yang sebelumnya tuli
Merasuk dalam hati sanubari, menyentil sukma
Kunikmati sajian iramanya seolah tersadar dari sebuah mimpi
Yang membuatku, bergejolak dalam diam.
*****

Maaf



MAAF ” menurut kamus bahasa Indonesia adalah ampun, sikap penyesalan.
Kata MAAF, adalah kata SAKTI. Yang dapat meluruhkan hati orang yang telah di sakiti atau di rugikan. Akan tetapi jika kata MAAF di pergunakan hanya sebagai kata kata klise tanpa berdasarkan penyesalan seperti konteks arti yang sebenarnya,…atau karena ada hal lain yg menjadi dasar pernyataan tersebut,…atau karena paksaan dari orang ketiga sehingga ucapan ini di lontarkan. Apakah kata MAAF yg seperti ini jika di ucapkan seseorang terhadap kita, pantas kita berikan MAAF? Apakah kita harus ikut-ikutan mengatakan ” ya, aku maafkan” padahal dalam lubuk hati yg paling dalam kita belum ( bukan tidak) dapat menyembuhkan rasa sakit yang di torehkan di hati kita? Kalau harus demikian, bukankah kita akan sama MUNAFIKnya ? Atau kita perlu terus terang mengatakan ” saya belum dapat memaafkan kamu, karena hatiku yang luka belum sembuh?” Akan tetapi kita sebagai orang timur merasa enggan berterus terang dan lebih memilih membohongi hati sendiri.

Memang semua agama mengajarkan kita untuk saling memaafkan, akan tetapi tentu saja “MAAF” dalam arti yang sebenarnya. Jadi lebih baik kita berhati hati jika kita telah menyakiti seseorang, apalagi orang banyak. Karena MAAF yang di berikan kepada kita ada kemungkinan bukan keluar dari hatinya, melainkan karena demi adat ketimuran kita.

Sesungguhnya akan lebih bernilai jika Permintaan MAAF di ungkapkan dengan perubahan sikap yg menunjukan adanya penyesalan. Dengan sendirinya orang yang kita sakiti akan mengerti, dan tanpa mengucapkan kata MAAF, Orang tersebut telah memaafkan kita.

Saat ini, saya sedang menunggu pintu maaf dari seseorang  sahabat atas kesalahan saya. Sungguh tak enak rasanya menunggu pintu maaf  di bukakan , terasa sebagai suatu ganjalan yang menghimpit setiap saat. Suatu pelajaran untukku untuk lebih berhati-hati dalam setiap ucapan maupun tindakan. Dan saya berharap tanpa mengucapkan ” saya memaafkanmu” dari lubuk hati yang paling dalam aku sudah di maafkan.
Sekali lagi ” maafkan aku, sahabat “

*****

Rasa dan Bahagia


Kupejamkan mata,
Lalu….
Kubayangkan sedang duduk di hamparan rumput hijau
Dengan latar belakang pegunungan
Kuhirup udara segar sepuasku

Damai….
Kemudian ku merenung,
Memikirkan akan arti kehidupan
Sesungguhnya, ….apa yang kita cari dalam hidup ini?

Kebahagiaan?
Apakah bahagia itu sudah di temukan?
Dimanakah letak sebuah kebahagiaan?
Apakah sebuah kepuasan itu adalah bahagia?
Bukankah bahagia itu juga sebuah rasa?

Jika bahagia adalah rasa,
Bukankah rasa itu dapat kita ciptakan
Semua rasa bersumber dari hati
Jadi…… Apakah bahagia itu?
*****

Sekilas Cerita Tentang Imlek


Tanggal 23 Januari 2012 adalah perayaan Tahun Baru Lunar 2563( Lunar New Year) atau lebih di kenal oleh masyarakat kita sebagai Tahun Baru Imlek. Tradisi masyarakat keturunan China ini, oleh generasi muda sekarang banyak yang tidak mengetahui asal mula perayaannya dan hanya dianggap sebagai suatu kebiasaan turun temurun ( termasuk penulis).
Sehubungan dengan tradisi Tahun Baru Lunar, ada beberapa cerita yang berhubungan dengan perayaan Imlek, diantaranya :

Tempelan Kertas Merah Pada Pintu Rumah

Zaman dahulu kala setiap malam tahun baru Lunar , ada mahluk jahat sangat besar yang di sebut sebagai “Nian”. Dia muncul untuk melahap manusia. Pada suatu masa datanglah seorang tua yang mengetahui kelemahan sang mahluk , maka di pancinglah sang mahluk keluar dengan menantangnya. Orang itu menantang sang mahluk untuk mengalahkan binatang buas yang banyak berkeliaran di sekitar penduduk bermukim. Jika mahluk NIan menang, maka si orang tua harus rela di santap oleh Nian, akan tetapi jika ia kalah Nian tidak boleh mengganggu penduduk selamanya. Mulai dari Harimau, ular dan binatang buas lainnya di kalahkan oleh sang mahluk Nian. Sekarang tiba giliran si Orang tua untuk mempertanggung jawabkan perjanjian mereka.

Sebelum mahluk Nian melahapnya, si orang tua memohon agar di beri kesempatan untuk membuka baju luarnya dan permintaan itu di kabulkan oleh Nian. Setelah baju luar di buka, nampaklah baju dalam si orang tua berwarna merah. Begitu melihat warna merah mahluk Nian langsung pergi ketakutan. Kelemahan ini sebelumnya sudah di ketahui oleh orang tua itu.
Sejak peristiwa itu , si orang tua menasehati penduduk agar selalu menempelkan kertas merah di pintu depan rumah masing-masing untuk mencegah malapetaka, dan mulai kejadian itu orang-orang menempelkan kertas merah di depan pintu sebelum Tahun Baru tiba , kemudian mereka menuliskan kata-kata beruntai sebagai petuah pada kertas tersebut.
Tradisi Menyulut petasan

Menurut sejarah, di puncak sebuah bukit penuh dengan bambu. Di celah-celah bambu tersebut hidup sekelompok mahluk gunung, bentuknya sangat pendek dan hanya mempunyai satu kaki. Mahluk gunung ini setiap tahun baru akan turun untuk mencari makan dan siapapun yang mendekati dan menyentuhnya akan sakit.

Suatu hari ada salah satu penduduk yag sedang melintasi hutan bambu dengan membawa ternak di punggungnya. Mahluk gunung berniat mencuri bawaan penduduk yang sedang melintasi hutan bambu akan tetapi ia tertangkap oleh penduduk tadi. Penduduk itu bermaksud membawa mahluk gunung untuk di hukum. Karena telah menyentuh mahluk gunung tersebut, penduduk itu sakit demam, sampai dia bertemu dengan temannya yang memberitahukan bahwa penyebab sakitnya karena telah menyentuh mahluk gunung.

Mahluk gunung sangat takut dengan suara kayu yang terbakar, jika mendengar suara kayu terbakar mereka akan ketakutan dan langsung pergi. Maka untuk mengusir mahluk gunung masyarakat selalu membakar ranting bambu. Tradisi tersebut masih di lakukan oleh masyarakat kita dengan cara menyulut petasan.

Kepada teman-teman yang merayakan, saya mengucapkan :
Gong Xi Fat Chai
Wan Xi Ru Yi
Nia nian You Yi
Shen Ti Jian Kang
Ma Tao Gong Chen
Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju ke Cinta Fiksi
* Gambar : Google
Sumber : Origins of Chinese Festivals

Keinginanku




Keinginanku.......
Kau mendengar setiap yang keluar dari mulutku
Kau melihat apa yang ku tunjukan padamu
Kau percaya apa yang ku ungkapkan
Kau mengerti apa mauku

Keinginanku.......
Pahamilah mauku
Hargailah pengorbananku
Berilah aku sedikit ruang gerak
Percayalah padaku

Keinginanku......
Cintai aku tanpa syarat
Terima aku apa adanya
Siapkan tanganmu untuk menopangku
Hiburlah aku kala kesedihan menerpaku
Berikan aku semangat untuk meneruskan kehidupanku

Keinginanku.......
Berikan aku kebahagiaan
Ciptakan kedamaian dalam hidupku
Limpahkan ketenangan dalam batinku
Teduhkan aku dari panas yang menyengat
Hangatkan aku dari dingin yang menusuk
Bimbinglah aku menuju kebaikan

Keinginanku.......
Dapatkah kau berikan ?
Lelah sudah aku berjalan
Kini saatnya ku harus mengambil jedah
Untuk menghilangkan penat yang mendera
Membuang segala rasa jenuh yang melanda
Tangerang, 22 Januari 2012

*****

Anak Kampung Menggapai Harapan




Pagi ini cuaca mendung, semendung hatiku saat ini. Sedih dan khawatir karena mulai hari ini, tepatnya beberapa jam lagi aku harus berpisah dengan kampung halamanku. Bukan hanya itu saja, aku akan kehilangan kehangatan dari semua anggota keluargaku, orang-orang yang kusayangi dan juga menyayangiku. Mama, papa dan saudara-saudaraku, kumohon doa kalian agar aku dapat melewati semua tantangan yang terbentang di depanku. Sesuatu yang aku sendiri tak dapat mengira-ngira seperti apa yang akan kuhadapi di kota yang kata orang sebagai gudang sejuta harapan ” Jakarta”

Kupandangi sekelilingku seolah ingin merekam semua yang nampak di sekitarku , kan ku ingat dalam anganku jika suatu hari kelak aku merindukan suasana seperti ini. Bagaimana pun juga di sinilah tempat aku dilahirkan, dibesarkan, bersekolah dan menghabiskan waktuku belasan tahun hingga sekarang. Begitu banyak kenangan  yang terjadi dan tersimpan di tempat ini. Dan sekarang  aku harus terbang ke tempat asing yang sama sekali belum pernah kuinjakkan kakiku di sana. Kubulatkan tekadku jika aku kembali nanti, aku tak ingin menjadi seorang yang gagal.
************
Raungan pesawat mewakili jeritan dalam hatiku, lebih kurang satu jam lagi aku harus berkata ” selamat tinggal kampung halamanku dan orang-orang yang kusayangi dan selamat menantikanku wahai kota sejuta harapan.” Harapan yang bagaimanakah akan menantikanku di sana nantinya?. Kuharap kau sedikit ramah padaku, si anak kampung yang belum memiliki pengalaman apa-apa, yang terpaksa harus meninggalkan kampung halaman demi memenuhi harapanku, juga harapan orang tuaku untuk menggapai cita-citaku.
*****
Kujejakkan kakiku pertama kali di kota sejuta harapan, terasa asing. Sesaat kebingungan dan kekhawatiran menghantui, akan bagaimana nantinya aku di sini, apakah aku sanggup menjalani hari-hariku tanpa orangtuaku? Berbagai pertanyaan seolah memenuhi otakku, dan semua itu membuatku takut. Mama, papa, tolong aku…. Anakmu yang tidak pernah jauh dari kalian, sekarang terdampar di kota asing, sendirian…..! Aku masih membutuhkan bimbingan kalian agar aku tidak salah langkah. Jika aku sakit atau sedih kepada siapa kuharus membagi rasa sakit dan semua duka yang kurasakan? Duh…. Gusti, aku ingin pulang…. aku takut! Pulang…… aku ingin pulang, mama!
*****

Malam ini adalah malam pertama aku tidur di tempat asing, masih kurasakan kamarku di kampung walau harus berbagi tempat tidur dengan adik-adikku tetap saja aku merasa lebih menyenangkan. Dulu…. Aku sering bertanya dalam hati, ” kapan aku mempunyai kamar sendiri, sehingga semua privacyku tidak terganggu?”. Tapi sekarang….. aku menyesali keinginanku itu, jika dapat memilih tentu akan memilih berbagi kamar dengan adikku daripada sendiri di sini, terasa asing dan sepi! Semua kenangan di kampung melintas satu persatu, ah…. aku kangen kalian semua, kampungku, mama, papa dan adik-adikku!

Air mata tak henti mengalir membasahi wajahku, ku coba menghalau semua kesedihan dengan membayangkan masa depanku harus ku mulai dari kota ini, kota sejuta harapan, ” maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok…”. Ya…. Semoga aku tidak mengecewakan harapan orang tuaku, harapanku dan harapan orang-orang yang kusayangi. Aku tahu itu tak mudah, tapi bagaimanapun juga sudah terlanjur kubawa langkah kakiku ke sini, apapun yang terjadi akan kuhadapi.
*****
Suatu siang dua bulan  kemudian, di sebuah gedung berlantai delapan di bilangan Jakarta Barat, dengan kaki gemetar kulangkahkan kakiku memasuki ruangan kantor sambil mendekap map yang telah kusiapkan lengkap dengan surat lamaran serta CVku. Menunggu panggilan dari dalam sebuah ruangan yang kurasakan sangat menyiksa, seolah menunggu saat-saat dimana akan ada seseorang yang akan menjagal leherku…( Seseram itukah….? ) Toh yang kuhadapi masih sesama manusia, sama-sama makanan pokonya adalah nasi. Diterima syukur, kalau tidak ……akan ku coba di tempat lain. Tak perlu rasa nervous ini kupelihara, “ayo…. Semangat dan pupuk rasa percaya dirimu!”  kuhardik diriku.

Akhirnya semua prosesi yang panjang itu berakhir juga dan aku berhasil menjadi salah satu karyawan di perusahaan itu. Bergabung dengan sebuah perusahaan importir, tempat kupenuhi harapanku, dan harapan orang-orang yang menyayangiku.

Mama, papa… inilah aku saat ini, anak kampung yang mencoba menggapai harapan. Doa kalian selalu kuharapkan untuk menjalani hari-hariku selanjutnya, menjawab semua tantangan yang terbentang di depan mataku dan kuyakin itu tidaklah mudah. Semoga aku berhasil memenuhi harapan kalian dan menggapai semua angan-anganku.

Tidak sedikit masalah dan rintangan yang kuhadapi diawal bergabungnya aku di perusahaan tempatku bekerja. Memang…. aku mengalami kesulitan  dalam beradaptasi dengan orang-orang baru, aku tak pandai berinteraksi dengan para senior yang tidak semuanya welcome padaku. Bahkan ada beberapa senior yang memandang rendah diriku, si anak kampung yang memang tidak punya keistimewaan apa-apa, tapi aku punya satu tekad untuk bekerja dengan sebaik yang aku bisa.  Aku tak ingin selamanya dianggap sebagai orang yang tidak punya kemampuan apa-apa. Belajar dan terus belajar kulakukan tanpa henti, hingga aku dianggap cukup setara dengan yang lainnya dan tak ada lagi pandangan merendahkan yang ditujukan padaku.
************
Suatu sore 10 tahun kemudian,….. di suatu ruangan gedung berlantai delapan aku duduk menghadapi laptop. Lelah sekali rasanya setelah menjalani aktivitasku seharian. Jam dinding dalam ruanganku menunjukkan jam lima tepat.  Ruangan di depan telah kosong ditinggal pemiliknya, begitulah kebiasaan di kantorku dan sekarang tinggal aku sendiri dalam ruanganku. Sudah saatnya aku berkemas untuk pulang, kedua buah hatiku tentu sudah tak sabar menantikanku di rumah. Sabar ya…….. sayang, sebentar lagi mama pulang. Kurindu celotehan si kecil  yang selalu meyambutku di depan pintu jika aku pulang, memelukku dan menarik tanganku untuk masuk ke rumah seolah ingin mengatakan ” nah… mama sudah sampai di rumah, berarti mama seutuhnya milik kami”. ahhh…..anak-anakku, mama kangen kalian

Sebelum aku menutup laptopku, sempat kubuka sebuah blog keroyokan favoritku ” Kompasiana” dimana aku dapat menjalin persahabatan dengan teman-teman dunia maya terutama warga Desa Rangkat. Sebuah Desa yang unik, menawarkan keakraban menebarkan persahabatan yang belum pernah kutemui dalam dunia nyata.

Wowww…. Ada undangan dari mas Hans, Aa kades Desa Rangkat. Beliau mengadakan “Rangkat Menulis(Ramen)”, walau aku belum pernah menulis cerpen ( biasanya hanya puisi dan catatan harian) kuberanikan diri mencoba untuk meramaikan acara ini demi dedikasiku terhadap Desa Rangkat yang telah menerimaku sebagai salah satu warganya. Terima kasih undangannya pak Kades Desa Rangkat, semoga tulisanku tidak mengecewakan kalian semua.
***********
Di tulis saat antri di sebuah RS di bilangan  Jakarta Utara, Tanggal 10 Oktober 2012

Sembilan Tahun Kemudian


Jam dinding dalam ruanganku menunjukkan jam 12:00 tepat . Seraya bangkit dari tempat duduk, kuluruskan punggungku, terasa enakkan sedikit. Cacing-cacing dalam perutku sudah protes minta asupan makanan, ada yang menendang, meninju, bahkan joget-joget hingga menyebabkan perih dalam perutku. Maklum, tadi pagi karena bangun kesiangan aku tak sempat sarapan, makanya dari jam 11:00 tadi sinyal dari dalam perut sudah dikirim ke otakku.

Dengan tergesa kubereskan file-file di atas meja kerjaku, mengunci ruanganku dan segera meluncur mencari makanan favoritku, gado-gado. Ahhhh…… dalam kondisi lapar begini rasanya sandal di kecapin juga terasa enak, hahahaha… begitulah seloroh teman-teman kantorku jika menderita lapar yang akut.

Beruntung aku, kantin tidak begitu ramai kala aku sampai di sana. Masih banyak bangku kosong sehingga aku tak perlu bersusah payah berebutan dengan pemangsa yang lain. Langsung saja kuletakkan pantatku si salah satu kursi kosong yang kuanggap strategis , di pojok dan terhalang tembok penyanggah gedung.

Tak perlu menunggu lama pesananku telah diantar ke mejaku. Seraya mengucapkan terima kasih mulailah ritual santap menyantap kulakukan, tentu saja sebelumnya kuucapkan syukur atas makanan yang kudapat hari ini. Tak perduli dengan orang-orang di sekitarku yang kurasa makin banyak memenuhi ruangan kantin, kupindahkan gado-gado dari piring ke perutku. Ahhh….. nikmat rasanya.

Tinggal beberapa suap sisa gado-gado dalam piringku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jatuhnya bola bekel di dekat kakiku. Dengan segera kupungut bola itu sambil mencari siapa pemiliknya. Nampak olehku seorang anak perempuan berumur lebih kurang tiga tahun dengan rambut di kepang dua, sangat cantik dan pasti akan menimbulkan rasa suka bagi orang-orang yang memandangnya. Dengan langkah takut-takut ia datang menghampiriku seraya berkata “ tante, boleh Vimala minta bolanya? Maaf….. tadi nggak sengaja bolanya jatuh dan menggelinding ke tempat tante”.Ohh… rupanya nama anak cantik ini adalah Vimala!

 “ Tentu saja boleh, sayang…. “ kujawab seraya menyerahkan bola bekel ke tangan mungilnya. Rasanya ingin kumenahan anak itu untuk berlama-lama di dekatku, aku suka anak ini….entah mengapa timbul rasa sayangku terhadapnya. Ada apa ini, saudara bukan…, keponakan juga bukan , bahkan melihat saja baru hari ini. Tapi mengapa seolah aku mengenal bentuk wajah anak ini? Serasa tak asing bagiku, apakah sebelumnya aku pernah mengenalnya atau pernah bertemu dengannya tapi aku lupa kapan dan dimana?

Dari jarak beberapa meja di depanku terdengar panggilan wanita muda memanggil nama Vimala, ternyata wanita muda itu adalah ibu sang anak. Anak yang cantik lahir dari seorang ibu yang jelita memang sudah sepantasnya. Alangkah bahagianya wanita muda itu mempunyai anak yang cantik dan cerdas. Seketika aku membayangkan tentu sang ayah juga rupawan hingga menghasilkan anak yang semanis dan secantik Vimala. Tiba-tiba wanita muda itu menghampiri mejaku seraya berkata” maaf mbak, anak saya sudah mengganggu acara makannya” sambil tersenyum kujawab dengan ” tak apa, aku juga sudah selesai makan, kok”.

Sebelum ibu dan anak meninggalkan mejaku tiba-tiba kudengar suara seorang laki-laki “ ma, sudah selesai makannya? Ayoo kita pulang, sebentar lagi nampaknya akan turun hujan”. 

Mendengar suara ini membuat tubuhku bergetar, aku sangat mengenal suara ini sembilan tahun yang lalu, tapi mungkinkah….. atau di dunia ini ada dua orang memiliki suara yang sama, tidak mustahil bukan? Segera kutoleh kearah datangnya suara tadi. Oh My God, ternyata dia……., dia yang selama sembilan tahun kucari dan dia yang telah berjanji denganku untuk bertemu setelah sepuluh tahun dari tanggal perjanjian kami, kini hanya tinggal setahun lagi batas perjanjian itu akan selesai.

 Selama ini aku terus menunggu sambil berharap penantianku tak sia-sia, tinggal setahun lagi aku akan bertemu dengannya dan merajut kembali hubungan kami yang sempat terjalin di usia yang masih ingusan ,dimana waktu itu kami dianggap oleh para orang tua belum pantas untuk merajut sepotong kasih. Dengan tekad bulat dan keyakinan tinggi kami buat perjanjian untuk bertemu sepuluh tahun kemudian dalam kondisi apapun. Karena aku percaya akan keteguhan hatinya, akupun dengan setia menjaga hatiku untuknya. Tak sekalipun kubuka sepotong hatiku untuk orang lain.

Sempat kulihat wajah laki-laki itu terkejut menatapku seolah tak percaya . Terlanjur sakit hati ini kurasa, dengan langkah gontai kulangkahkan kakiku meninggalkan kantin. Berusaha nampak gagah seolah tak terpengaruh dengan kehadiran laki-laki itu, kutegakkan tubuhku dan melangkah dengan gagah. Aku tak ingin terlihat seperti seorang pecundang! Tak kupedulikan teriakannya memanggil namaku. Aku telah patah hati, yach…..aku patah hati! Mana keteguhan hati yang kau ucapkan dulu,…….. mana janji setia yang kau yakinkan kepadaku saat itu?

Sungguh sulit aku menjalani hari ini, semua konsentrasiku buyar. Pekerjaan yang tadinya harusnya rampung hari ini, menjadi mentah tak tersentuh. Tuhan, hari ini Engkau telah menjawab penantianku selama ini. Kau sadarkan aku sebelum waktu penantianku sampai pada batas yang kami janjikan. Walau terasa berat , toh kehidupan tetap harus berjalan, bukan? Tolong , berikan aku kekuatan untuk terus melanjutkan kehidupanku….ahh…. dunia belum berhenti berputar, aku harus bangkit….aku harus kuat dan aku percaya Engkau merencanakan yang terbaik untukku.

Setelah berminggu-minggu aku tenggelam dalam kegundahan dan kesedihan yang melumpuhkan seluruh semangatku, akhirnya aku berpikir tak ada gunanya kesedihan ini kuratapi. Benar para orang tua kami dulu mengatakan masih banyak yang akan terjadi dengan kami dalam rentang waktu sepuluh tahun, dimana usia kami waktu itu masih sangat labil. Yang pasti dia bukan diciptakan untukku, ada wanita lain yang di gariskan menjadi pasangannya, dan aku harus berjuang melanjutkan kehidupanku. ” …….maka disinilah aku berdiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok…..“ dan ku yakin akupun akan menemukan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupku kelak ,yang akan membimbingku serta mendampingiku dalam suka maupun duka, bersama denganku meniti sisa hari-hari yang di berikanNya untukku. 

Cukup sudah penantianku selama ini, ternyata telah kusia-siakan waktuku hanya untuk menanti seseorang yang tidak mengharapkanku menjadi pendampingnya. Tapi aku tidak menyesal melakukan itu, perasaan seseorang tak akan mampu dikontrol oleh orang lain, hanya pemiliknyalah yang mampu mengendalikannya, aku berjanji dalam hatiku akan kulupakan engkau dihari-hariku selanjutnya dan akan kubuka pintu hatiku lebar-lebar untuk menerima laki-laki lain . Biarlah kubungkus semua kenangan tentang kita rapat-rapat dan kuletakkan disudut hatiku yang paling dalam serta berharap bungkusan itu tidak akan mengusik kehidupanku selanjutnya. Semoga aku di berikan kemudahan untuk itu ,dengan di dampingi orang-orang yang menyayangiku, ku yakin aku akan kuat.

******\
Dua tahun kemudian, di ruangan tamu rumahku telah lengkap berkumpul seluruh anggota keluargaku, malam ini keluarga kami akan kedatangan tamu agung. Mas Kemal akan membawa kedua orang tuanya untuk melamarku. Dia laki-laki yang baik dan menyayangiku dengan tulus. Bersamanya, kuletakkan semua harapanku untuk menjalani kehidupanku selanjutnya. Semoga Tuhan mempermudah jalan kami ke depan.